Home / Blog / Simpanan Syariah Makin Berkembang, Perdalam Pemahaman Konsepnya

Simpanan Syariah Makin Berkembang, Perdalam Pemahaman Konsepnya

20/09/2021, 2:30 am

Saat ini, telah banyak berkembang dan bermunculan koperasi syariah di Indonesia. Kegiatan usaha koperasi syariah mencakup kegiatan yang mencerminkan aspek bisnis (tamwil). Secara legal mengacu pada Peraturan Menteri Koperasi (Permenkop) dan UKM Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan, Pinjam, dan Pembiayaan Syariah oleh Koperasi. Sedangkan dalam aspek syariah mengacu pada fatwa DSN-MUI yang relevan untuk produk koperasi syariah.

Kegiatan bisnis koperasi syariah meliputi tiga produk yaitu Simpanan, Pinjaman, dan Pembiayaan. Dalam setiap kegiatan bisnis memiliki konsep yang berbeda-beda.Selaras dengan itu, untuk memperdalam pemahaman terkait konsep simpanan syariah, berikut ini penjelasannya.

Konsep Bisnis Simpanan

Simpanan Dalam Koperasi Syariah & USPPS (Unit Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah) merupakan dana yang dipercayakan oleh anggota atau calon anggota kepada koperasi syariah & USPPS berdasarkan Akad wadi’ah yad dhamanah (tangan penanggung) atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah dalam bentuk simpanan dan atau simpanan berjangka, dalam Koperasi Syariah & USPPS tidak mengenal istilah bunga. Berdasarkan Permenkop Nomor 11 Tahun 2017, ketentuan produk simpanan pada Koperasi Syariah sebagai berikut : (1) Penerbitan produk Simpanan Koperasi merupakan wewenang Pengurus setelah mendapat pertimbangan Dewan Pengawas Syariah. (2) Simpanan diberikan imbalan berupa bagi hasil dan imbal jasa atau bonus yang besarnya ditentukan oleh rapat anggota. (3) Perhitungan bagi hasil untuk simpanan yang menggunakan akad Mudharabah berasal dari pendapatan operasional utama KSPPS atau USPPS Koperasi. (4) Perhitungan imbal jasa atau bonus yang bersifat sukarela untuk Simpanan yang menggunakan akad wadiah didasarkan kepada kebijakan operasional KSPPS atau USPPS Koperasi dan KSPPS dan USPPS Koperasi wajib menjamin keamanan Simpanan dan Tabungan Anggota, Calon Anggota, Koperasi lain dan/atau Anggotanya. Perlu diketahui jenis akad yang digunakan pada produk simpanan koperasi syariah dapat menggunakan dua akad yaitu akad wadi'ah dan akad mudharabah.

Akad wadi'ah adalah akad penitipan barang atau uang antara pihak yang mempunyai barang atau uang dan pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, keamanan, serta keutuhan barang atau uang. Ketentuan Umum Simpanan berdasarkan akad Wadi’ah menurut Fatwa DSN-MUI No. 2 tentang Tabungan : (1) Bersifat simpanan, simpanan bisa diambil kapan saja (on call) atau berdasarkan kesepakatan, (3) Tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian (‘athaya) yang bersifat sukarela dari pihak koperasi.

Sedangkan, akad Mudharabah adalah akad atau sistem kerja sama dimana seseorang menyerahkan hartanya kepada pihak lain untuk dikelola dengan ketentuan bahwa keuntungan yang diperoleh (dari hasil pengelolaan tersebut) dibagi antara kedua pihak sesuai dengan nisbah yang disepakati, sedangkan kerugian ditanggung oleh shahib al mal sepanjang tidak ada kelalaian dari mudharib. Ketentuan umum Simpanan berdasarkan akad Mudharabah menurut fatwa DSN-MUI Nomor 2 adalah sebagai berikut ; (1) Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul mal atau pemilik dana, dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana. (2) Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya, termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain. (3) Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang. (4) Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening. (5)Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. (6) Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan.